Sabtu, 14 November 2009

Friendship... Friendship... Ahai...!!!


Aku hari2 ini sangat menikmati kegiatan chatting di dunia maya. Entah kenapa. Rasanya seperti tidak ada matinya dan tidak ada habisnya energi yang ada saat aku mengetikkan jari jemariku di atas kibor laptop sambil menanggapi obrolan yang muncul di layar pendar. Haha... rasanya tidak pernah kesepian meskipun rumahku terbilang sepi dan jauh dari keramaian. Mungkin aku layak untuk mendapat gelar "juragan chatting". Setiap hari kalau sudah duduk di depan laptop, pasti langsung kubuka Facebook dan Yahoo Messenger sekedar untuk melihat siapa yang online. Kalau ada teman yang kukenal dan biasanya asyik diajak chatting, langsung saja aku samber IDnya dan kuajak chatting. Entah apa yang mendorongku. Obsesif kompulsif mungkin. ^^ Dan entah apa pula yang ada di pikiran orang2 yang kuajak chatting ngalor ngidul itu. Mungkin ada yang senang tapi nggak sedikit pula yang bosan. Mungkin di pikiran mereka "yah, dia lagi... dia lagi..!" Hehe... semoga tidak, ya... dan semoga teman chattingku selama ini nggak menganggapku sebagai pengganggu yang sudah keterlaluan yang harus dibasmi... ^^

Chatting... Ngobrol... SMSan... korespondensi... itulah bentuk2 komunikasi yang kita kenal... komunikasi yang dapat mempererat tali pertemanan dan persahabatan... Ya, teman dan sahabat... Aku sangat menaruh perhatian pada yang namanya membangun hubungan dengan teman dan sahabat... mengapa? Karena aku menyadari bahwa aku ini nggak bisa hidup seorang diri... Aku memerlukan orang lain untuk berbagi suka dan duka... berbagi suka misalnya saat aku sedang diam2 menyukai seseorang (ahai... ahai... ^^). Berbagi duka misalnya saat aku sedang patah hati... (hihi...). Dan puji Tuhan, berkat kecanggihan teknologi dewasa ini, aku tidak lagi merasa kesepian yang teramat sangat karena aku bisa chatting dan SMSan sesuka hati asalkan aku melakukannya dengan penuh tanggung jawab dan pengendalian diri.

Seorang teman SMSan ku bilang bahwa aku ini orangnya baik dan enak diajak ngobrol, nggak seperti kebanyakan teman2 SMSannya yang lain (ge er dulu ah^^). Aku memang berusaha untuk nggak menyakiti hati orang lain yang berusaha untuk mengenalku lebih dekat karena aku sendiri tahu bagaimana rasanya mendekati seseorang yang kusukai sementara mungkin dianya sendiri biasa2 aja terhadapku. Yah, hukum tabur tuai ajalah... aku menabur kebaikan dan kesabaran... dan keadilan... Tapi pernah juga, nggak cuma sekali, kebaikan hatiku itu disalahtafsirkan oleh yang kubaiki hati... aku cuma menawarkan 50%, dia mintanya 100%... paham maksudku? Aku cuma menganggapnya teman, tidak lebih, tapi dianya sudah menganggapku lebih dari teman... konsekuensinya, dia sering SMSin nggak jelas dan miscal2 nggak penting... pada awalnya sih aku bisa menolerirnya, tapi lama kelamaan aku merasa terganggu. Akhirnya, dengan tegas aku menentukan sikap untuk menjauh darinya... puji Tuhan, sekarang dia sudah tidak lagi menggangguku... hehe...

Belajar dari pengalaman yang sudah2 itu, sekarang aku lebih selektif dan hati2 dalam bergaul di dunia maya (dan dunia nyata). Nggak lagi sembarangan menunjukkan kebaikan hati, karena sadar bahwa di dunia ini kemurnian kasih dapat disalahtafsirkan karena manusia masih mengenakan tubuh duniawi, belum tubuh surgawi yang steril dari hawa nafsu. Tapi aku masih nggak kapok2 juga untuk chatting dan SMSan dengan teman2 dan sahabat2ku. Semoga mereka pun nggak kapok ya denganku... haha...

Thanks to my dear friends and FRIEND yang telah membuat hari2ku menjadi cerah ceria setelah untuk beberapa waktu lamanya tertutup mendung tebal... viva persahabatan!!! Amigos para siempre!!! ^^

Senyum Yuk!!!


Tersenyumlah sebelum tersenyum itu dilarang!

Menyitir slogan yang sering digunakan oleh Warkop DKI (tertawalah sebelum tertawa itu dilarang), saya di sini hanya ingin menyerukan kepada saudara2 sekalian yang budiman dan budiwati untuk senantiasa membiasakan diri untuk tersenyum, kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Mengapa tersenyum itu penting? Penting, karena tersenyum merupakan suatu cara termurah dan termudah untuk mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Dengan tersenyum, seseorang dapat menularkan energi positif kepada lingkungan di sekitarnya sehingga terciptalah harmoni kehidupan dengan melodi mayor yang indah, membangkitkan semangat untuk hidup. Mengapa tersenyum? Seseorang dapat tersenyum dengan berbagai macam alasan. Ada yang karena bahagia, ada juga yang karena ingin membahagiakan orang lain. Apapun alasannya dan motivasinya, entah tulus atau tidak, tersenyum itu jauh lebih baik daripada tidak tersenyuk atau cemberut.

Bagaimana caranya untuk senantiasa tersenyum? Seorang pengajar dan pendidik di ilmu penyakit dalam yang sangat saya hormati, Pak BJ, selalu mengajarkan anak didiknya untuk memasang wajah tersenyum. Dengan mudah, beliau mengajarkan untuk menarik bibir ke kanan 2 senti meter dan ke kiri 2 senti meter, kemudian pertahankan selama sepuluh detik. Lakukan itu setiap kali bertemu dengan orang lain. Maka lama kelamaan kita akan terbiasa untuk memberikan senyuman secara otomatis.

Bagaimana jika hati atau perasaan kita sedang sedih? Dengan tersenyum, sebenarnya kita sedang mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa keadaan akan baik2 saja. Bahkan tidak jarang, dengan tersenyum, suasana hati seseorang pun akan ikut terangkat. Jadi, sebenarnya bukan suasana hati yang mempengaruhi kita untuk tersenyum melainkan dengan tersenyum maka suasana hati kita pun ikut terpengaruh. Senyumlah yang membuat kita bahagia... itu rumus ngawur yang saya dapatkan selama ini... sama dan sebangun dengan rasa syukur... Kita bersyukur bukan karena kita bahagia, melainkan kita bahagia karena kita bersyukur...

Apa jadinya jika seluruh dunia berisi orang2 yang tersenyum senantiasa? Tentu saja tersenyum tulus yang lahir dari hati... Sudah barang tentu dunia akan menjadi lebih baik, lebih indah, dan lebih nyaman untuk dinikmati. Persahabatan yang indah pun dapat terjalin dengan mesra. Tidak ada lagi rasa curiga atau permusuhan. Yang ada hanya rasa kasih dan mengasihi satu sama lain. Suatu utopia yang luar biasa, bukan? Tapi bukan berarti semua ini hanya impian kosong... Jika kita bisa menghadirkan suasana indah melalui senyuman di dunia ini, maka kita sudah merasakan sedikit suasana surga kelak yang bakal menjadi bagian kita di dunia yang akan datang.

Jadi, sudahkah kita tersenyum hari ini? ^^

Kamis, 12 November 2009

Buku Tentang Ratu Adil... Keren!!!


Sekarang aku lagi baca buku yang kata orang "berat" karangan Bambang Noorsena berjudul "Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen". Sudah lama sebenarnya aku pingin beli dan baca nih buku tapi baru kesampaian minggu ini. Semacam ada panggilan gaib (hihi) yang menarik-narik perhatianku untuk memilih buku ini sebagai bacaan "ringan". Bukunya sendiri ukuran standar, 357 halaman, kertas HVS putih, sampul depan bergambarkan sosok wayang (Kresna mungkin) dan gunungan yang dilatarbelakangi semburat warna lembayung bergradasi merah dan oranye. Cukup atraktif dan menarik. Nggak terlalu menyolok mata. Buku terbitan Andi ini layak untuk jadi koleksi. Hehe... lho, kok belum2 sudah promosi? ^^

Mengapa aku beli buku ini? Tema Ratu Adil sudah sejak lama menarik perhatianku. Istilah Ratu Adil sendiri pertama kali aku kenal waktu pelajaran sejarah di SD yang menyebutkan adanya pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Selidik punya selidik, akhirnya aku pun mulai tahu, mengerti, dan sedikit memahami perihal Ratu Adil. Ratu Adil tidak lain dan tidak bukan adalah sosok pemimpin (raja=ratu) yang dinanti-nantikan oleh orang Jawa. Saat kedatangannya, kondisi dunia atau negeri akan dipimpin dalam keadilan dan kemakmuran. Sosok ratu Adil sendiri tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya. Manusia2 yang bermunculan sebagai figur pemimpin dewasa ini sepertinya tidak ada yang layak untuk dijuluki Ratu Adil mengingat keadilan dan kemakmuran masih belum juga terwujud secara nyata di bumi Indonesia pada khususnya dan di dunia pada umumnya. Lalu siapakah Ratu Adil ini dan kapankah beliau akan datang?

Di buku inilah pertanyaan2 tersebut dijawab dengan jawaban yang panjang lebar namun tidak nggladrah. Dengan adanya sumber2 tertulis yang merupakan referensi budaya, penulis meramu pengetahuannya yang dalam mengenai kebudayaan dan agama secara canggih dan luar biasa menarik. Meskipun tampak seperti pluralisme dan sinkretisme agama, penulis dengan tegas menyatakan bahwa Sang Ratu Adil tidak lain dan tidak bukan adalah Kanjeng Gusti Yesus Kristus sendiri, Sang Mesias. Bagaimana penjelasannya sehingga bisa ditarik kesimpulan yang demikian? Silakan saja baca sendiri karena saya tidak mampu melukiskan dengan kata2 ketajaman dan keindahan pemaparan penulis.

Berikut ini jiplakan tulisan di sampul belakang untuk menumbuhkan minat dan gairah anda supaya mau membaca juga buku yang bagus ini... ^^

Menyoal Ratu Adil di tengah2 situasi bangsa dan negara sekarang, sudah barang tentu sangat menarik. Akan tetapi, buku ini tidak hanya menyoal sosok Ratu Adil politis (this worldly orientation), tetapi lebih pada Mesiah eskatologis dunia yang akan datang (other worldly orientation).
Menariknya, dalam perspektif Jawa, semua agama dan tradisi spiritual bertemu. Akhirnya, kita diajak untuk turut mengunjungi kios demi kios "pasar malam agama" (meminjam istilah Anthony de Mello, SJ) di depan "rumah joglo" spiritualitas Jawa.
Tarik menarik pengaruh agama2 dengan Kejawen dalam rentangan sejarahnya yang panjang, juga tak kalah menariknya. Dari pustaka Kalimahosada menjadi Kalimah Syahadat, personifikasi Portugis-Kristen dengan sosok Dewa Srani, dongen Ranggawarsita mengenai "masuk Kristen"nya Ajisaka, sang pencipta "Hanacaraka" hingga pertemuan para kiai Jawa dengan Yesus dan iman Kristen.


Dan untuk lebih merangsang anda2 sekalian, saya tuliskan di sini daftar isi buku tersebut...

DAFTAR ISI

  1. Dari Fajar Menuju Rembang Siang: Sebuah Refleksi Teologis
  2. Mengungkap Pergumulan Spiritualitas Jawa
  3. Seraut Wajah Yesus: Hidup dan Interpretasinya dalam Kepustakaan Jawa
  4. Dewa Srani, Agama Serani, dan Setan Nasrani
  5. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dan Pohon Pengetahuan yang Baik dan yang Jahat
  6. Belajar dari Perjumpaan Islam dan Kejawen
  7. Di Balik Mitos Batara Kala: Kesadaran Dosa Semesta dan Kerinduan Penebusan
  8. Syekh Siti Jenar, Suluk Pesisiran, dan Tasawuf Kristen Timur
  9. The History of God: Dari Israel, Athena hingga Tanah Jawa
  10. The Fall of Ratuning Dhemit: Kejatuhan Setan dan Babad Pawartos Rahayu di Jawa
  11. 'Isa Al-Masih di Mata Santri Jawa: Selayang Pandang Mengenai Kitab Kuning
  12. Seandainya Darmogandhul Bertemu Yesus: Sisi Lain dari Harapan Mesianis Jawa
Bagaimana? Sudah terangsang? hehe... selamat mencari, membeli, membaca, dan memahami ya... God bless!!!

Gelisah Yang Kudus


Yesus, mesiasku...

jiwaku gelisah...
gelisah yang kudus...
gelisah karena ingin melahirkan sesuatu...
sesuatu yang berharga...
seharag nyawaku...
yang telah ditebus oleh darahMu...

Oh, Bapa...

aku lagi gelisah...
gelisah yang nikmat...
Hidupku sungguh berarti...
dan aku sedang berjalan di jalanMu...
bersamaMu...
selalu dan selalu...

Hatiku sedang terbakar...
oleh api semangat dan cintaMu...
yang menyala-nyala menghangatkan kalbu...
Jangan sampai padam...
Jangan sampai mati...
Teruslah menyala...

Ya..
aku sedang gelisah...
gelisah yang kudus...
Haleluya!!!

Ilmu Sosial VS Ilmu Pasti... Sekedar Curhat...


Waktu aku sekolah sampai sekarang ini, aku mendapati bahwa ada pembedaan perlakuan antara ilmu pasti dan ilmu sosial... Semacam ada anggapan umum yang mengatakan ilmu pasti (seperti IPA, Matematika, dkk) itu lebih keren dan bergengsi daripada ilmu sosial (seperti sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, dkk). Bahkan sampai sekarang pun masih ada orang tua yang mendorong (kata lain dari memaksa) anak2nya untuk memilih masuk jurusan ilmu pasti ketika masih duduk di sekolah menengah dengan asumsi bahwa anak2 yang duduk di kelas ilmu pasti (kelas IPA) itu lebih pintar daripada anak2 yang duduk di kelas ilmu sosial (kelas IPS). Benarkah demikian? Benarkah ilmu pasti itu lebih superior daripada ilmu sosial? Dan benarkah anak2 yang duduk di kelas ilmu pasti itu lebih pintar daripada yang duduk di kelas ilmu sosial?

Padahal, kalau dikaji secara seksama (wuih, bahasane... ^^), kita bisa melihat bahwa orang2 yang mempelajari ilmu pasti (para teknokrat) itu kebanyakan malah hanya jadi bawahan dari orang2 yang mempelajari ilmu sosial. Biasanya, ini menurut pandanganku sendiri sih yang masih belum terbukti kebenarannya (masih bisa diperdebatkan), orang2 yang belajar ilmu pasti itu ke depannya 'hanya' akan menjadi tenaga kerja bagi orang2 yang belajar ilmu sosial. Mau contoh? Misalnya, seorang dokter akan bekerja di rumah sakit... maka dia akan jadi bawahan dari direktur rumah sakit yang belum tentu juga adalah seorang dokter, atau kalau toh dia dokter, pasti pernah belajar ilmu manajemen rumah sakit yang notabene bukanlah termasuk di dalam ilmu pasti/IPA. Contoh lain, mmm... apa ya? Hehe... kurang baca2 nih, jadi kurang bisa ngasih contoh yang lain... Tapi pasti ada yang menyanggah, lha itu dulu dokter2 zaman Budi Utomo itu nyatanya bisa jadi pemimpin juga? Hmmm... Berdasarkan yang aku baca dan aku khayalkan, dokter2 zaman dulu itu nggak cuma belajar dicekoki ilmu kedokteran saja, tapi mereka secara autodidak pasti belajar ilmu2 sosial on the spot... Yang jelas, ilmu kepemimpinan itu nggak pernah diajarkan di pendidikan formal (di Indonesia), tapi melalui pendidikan nonformal dan informal...

Ilmu sosial yang kadang dianaktirikan di sekolah2 unggulan di Yogyakarta itu sebenarnya sangat menarik lho... kenapa dulu aku nggak masuk kelas IPS ya? Padahal, nilai2ku itu sebenarnya seimbang antara IPA dan IPS... jadi bisa milih sesuka hati... lalu kenapa aku milih IPA ya? Yah, ini akibat dari sistem pendidikan yang masih belum sempurna (baca: salah). Seandainya aku dulu milih kelas IPS, mungkin aku akan menikmati bermain analisa dengan teori2 sosial... Mungkin aku akan belajar membuat banyak tulisan esay yang oke punya, bukan hanya sekedar nulis2 curahan hati yang nggladrah ke sana ke mari... Mungkin aku akan jauh lebih cerdas secara emosi karena hati nuraniku dapat terasah lebih tajam dan akurat dalam memandang realita sosial yang ada... Hoho... menyesal? Tidak... aku cukup bersyukur dengan pilihanku karena setidaknya aku sekarang beroleh kesadaran bahwa ilmu sosial itu ternyata menarik juga... ^^

Buat teman2ku dan adik2ku, serta kakak2ku yang berkecimpung dalam dunia ilmu sosial, jangan berkecil hati ya kalo mendengar omongan miring dari orang2 yang nggak tahu... they just don't know... aku salut pada kalian yang sejak dini sudah menentukan pilihan untuk terjun di bidang sosial, melawan arus yang ada... Salut, banget... Aku perlu belajar untuk tidak bersikap pengecut tetapi berani menentukan sikap, nggak terlalu memusingkan apa kata orang...

OK deh... maju terus Indonesia... !!! ^^

So Simple...


Di tengah euforia dan semangatku dalam proyek community developmentnya Pak Mub yang aku ikuti ini, aku merasakan sedikit kekuatiran dan kegamangan... aku baru sadar kalau selama ini aku telah menjadi alien bagi lingkungan sekitarku... aku nggak kenal dan nggak dikenal oleh orang2 sekampungku sendiri... aku nggak pernah srawung dengan para tetangga... bagaimana aku bisa jadi agen public health kalau aku sendiri asing dengan masyarakat yang ada? Bagaimana aku bisa membantu mereka kalau ngomong2 dengan orang2 saja aku jarang? Duh... seandainya saja mereka masing2 punya laptop, bisa internetan, mungkin aku bisa chatting tiap hari sama mereka... tapi bagaimana mungkin? Terus, aku harus mulai dari mana? Aku memang sudah memulai dengan mempelajari dan membaca2 riset akademis yang diberikan oleh Pak Mub... tapi bagaimana menjembatani gap akademis dengan kenyataan di lapangan? Bagaimana mengkomunikasikan apa yang kuketahui dengan mereka2 yang tahu aja enggak dan mungkin nggak mau tahu? Hmmm... ini pe er ku selanjutnya nih...

God, help me please... I need Your wisdom... encourage me...

Kalo dari firman Tuhan, aku diingatkan untuk mengarahkan diriku pada perkara2 yang sederhana, jangan mikir yang terlalu muluk atau rumit2, jangan menganggap diriku pandai... Hmmm... hal sederhana apa yang bisa kulakukan ya? Yang pertama sih mengerjakan apa yang sudah ada di tanganku terlebih dahulu, yaitu mempelajari bahan2 akademis yang dipercayakan padaku... terus mengikuti apa maunya Pak Mub, karena beliaulah yang punya gawe dan tahu mana yang penting... first thing first lah... OK... terus, masalah gimana ngomong ke orang atau komunitas masyarakat, itu nanti dulu... yang penting sekarang adalah membuat tulisan review, analisis, atau apalah yang sejenisnya mengenai apa yang sudah aku pelajari... baru kemudian omong2 lagi sama Pak Mub, minta pencerahannya... Hehe...

So simple kan?

Selasa, 10 November 2009

I LOVE YOU LORD


Speechless... speechless... aku speechless lagi... aku jatuh cinta lagi pada Tuhan Yesus, Gusti Rama Prabu, Pangeran Yehuwahku yang maha mulia... aku terbakar oleh api semangat yang bergelora padaNya sekali lagi... aku ditambahi semangat untuk belajar nulis lebih serius lagi... terima kasih Tuhan, buat kakak dan guruku yang Kau tempatkan di sepanjang jalanku kehidupanku ini... aku mau berikan yang terbaik juga untukMu, Tuhan... ini janjiku... ini komitmenku...

I am not alone...

I am not alone...

I am not alone...

Only by grace, Your grace o Lord... thank you very much... haleluya....