Rabu, 09 Desember 2009

Berdoa Bersama Bu Indarti

Saat-saat yang paling mengesankan bersama Bu Indarti adalah saat-saat kami berdoa bersama. Biasanya di sekolah sesudah semua murid pulang, dan hanya tinggal aku atau dengan beberapa murid saja bersama Bu Indarti di ruang agama, kami biasa melakukan sharing kehidupan kami masing-masing. Setelah sharing itu, Bu Indarti kemudian mengajak kami semua berdoa sambil bergandengan tangan. Sangat menyenangkan sekali mendengarkan Bu Indarti berdoa. Karena saat berdoa, Bu Indarti benar-benar menunjukkan kedekatannya terhadap TUHAN dan isi doanya pun begitu indah. Keindahan dalam kesederhanaan. Bu Indarti mendorong kami semua anak didiknya untuk senang berdoa dan mempunyai hubungan yang intim dengan Bapa. Kami belajar melalui kehidupan Bu Indarti bahwa doa adalah cara yang paling ampuh untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, sesederhana maupun serumit apapun itu.

Ada tiga momen paling berkesan dalam hidupku saat berdoa bersama Bu Indarti. Momen pertama adalah saat aku lulus SMA dengan hasil ujian yang tidak terbaik, lulus sih tapi hasilnya masih di bawah prestasi temanku Yiska. Aku yang terbiasa menjadi nomor satu harus merendahkan hati mengakui presatsi orang lain. Sebelum datang ke tempat perayaan kelulusan, aku menyempatkan diri datang ke ruang agama SMP 5 untuk bertemu Bu Indarti dan berdoa bersama. Dan dengan penuh hikmat, Bu Indarti pun berdoa membesarkan hatiku. Momen kedua adalah saat aku akan masuk kuliah. Waktu itu aku sama Bu Indarti di rumahku, kami habis memuji dan menyembah Tuhan dengan sederhana. Aku yang main piano, Bu Indarti yang menyanyi. Nggak tahu gimana, Bu Indarti merasa sangat kepenuhan Roh Kudus dan tergerak untuk berdoa bersamaku. Kami pun masuk ke kamarku dan mulai berdoa. Bu Indarti berdoa dengan bahasa Roh yang luar biasa, aku cuma ngikutin aja. Kemudian secara khusus Bu Indarti mendoakanku yang mau masuk kuliah, karena sepertinya aku bakalan mengalami saat2 terberat dalam hidupku. Dan memang benar, aku mengalami hal2 yang sangat traumatis saat aku kuliah. Momen ketiga, adalah saat kami berdoa bersama di GKJ Sawokembar Gondokusuman, malam2 setelah kebaktian Sabtu sore. Kami sama2 berlutut. Yang aku ingat, waktu itu aku menyanyikan lagu Di Jalanku Kudiiring, dan Bu Indarti kembali mendoakanku secara khusus yang sudah masuk kuliah.

Wah, pokoknya bersama Bu Indarti tidak pernah membosankan deh. Dan saat2 yang paling kutunggu ketika aku main ke rumah Bu Indarti adalah saat kami berdoa bersama. Karena kami telah belajar percaya bahwa ada kuasa dalam doa, apalagi doa sepakat. Terima kasih Tuhan buat guru yang sangat luar biasa ini.

Berdoa Bersama Sahabat

Berdoa untuk sahabat dan didoakan sahabat adalah hal luar biasa. Namun ada lagi hal yang tidak kalah luar biasanya yaitu berdoa bersama sahabat kita. Saat kita berdoa sendiri, kita seperti menanggung segala beban dan persoalan yang kita hadapi maupun dihadapi orang lain di atas bahu kita sendiri. Rasanya mungkin luar biasa berat. Namun saat kita berdoa bersama-sama, kita akan saling tolong-menolong menanggung beban yang berat itu bersama-sama. Istilah kerennya adalah berbagi beban. Rasanya tentu akan lebih ringan dan lebih melegakan. Dan hal seperti itulah yang diinginkan oleh Tuhan bagi kita semua yaitu supaya kita saling bertolong-tolongan menanggung beban satu sama lain. Dalam doa yang dipanjatkan bersama-sama itu, ada kasih dan kuasa yang dilepaskan sehingga mempererat persekutuan kita dengan Tuhan dan dengan sahabat yang berdoa bersama kita. Dalam doa bersama itu pula kita akan merasa lebih dikuatkan dalam hati karena kita tahu dengan pasti bahwa sahabat kita ada bersama kita dan sungguh2 peduli dengan kita. Kita tidak lagi merasa seorang diri dalam menjalani hidup di dunia dari hari ke hari.

Ada banyak cara kita dapat melakukan doa bersama. Kita dapat bertemu muka dengan muka dan berdoa bersama pada waktu dan tempat yang sama. Namun jika tempat tidak memungkinkan, kita dapat mengambil satu waktu khusus dalam suatu hari untuk berdoa di tempat masing-masing. Misalnya aku berada di kamarku dan sahabatku ada di kamarnya di rumah masing-masing, kami sepakat untuk saling mendoakan tepat pada jam 9 malam. Ada lagi cara lain yaitu memanfaatkan teknologi yang ada. Misalnya dengan mengirimkan pokok doa melalui SMS atau email kepada sahabat kita.

Ikatan batin yang didasari oleh kasih yang tulus dan murni akan tercipta saat kita dan sahabat kita saling mendoakan. Sehingga, bukan hal yang mustahil jika pada suatu waktu salah seorang mempunyai masalah namun sahabatnya sudah ikut merasakan apa yang dirasakannya sebelum ia sempat mengatakan kepada sahabatnya. Aku dan seorang sahabatku dulu juga sering mengalami hal yang demikian. Kami jarang sekali mengeluhkan masalah kami namun setiap kali kami ada masalah, kami sudah saling mendoakan bahkan sebelum diminta. Dan kami sering takjub sendiri akan ketepatan suara hati atau firasat yang sering kami rasakan satu sama lain. Semua ini hanya dimungkinkan karena Tuhan sendiri yang bekerja di antara kami.

Mari kita bangun hubungan persahabatan yang kuat dan melekat dengan mengembangkan kehidupan doa bersama-sama. Sebab, seperti firman Tuhan katakan, ada kuasa dalam doa sepakat. Sudahkah?

Sahabat Adalah Anugerah

Tahu apa itu anugerah? Ya, anugerah. Anugerah adalah sesuatu yang kita dapatkan meskipun kita tidak layak mendapatkannya. Semuanya terserah kepada sang pemberi anugerah itu sendiri. Jadi, bukan karena kebaikan hati atau perbuatan baik kita kita layak menerimanya namun semata-mata karena kemurahan hati sang pemberi anugerah. Contoh anugerah terbesar yang kita kenal adalah keselamatan jiwa kita dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita diselamatkan bukan karena kebaikan atau perbuatan baik kita karena apa pun yang kita lakukan tidaklah dapat menebus kita dari dosa-dosa kita. Hanya Tuhan sendirilah yang mampu menyucikan kita dari semua dosa kita dan menyelamatkan kita. Dan ternyata Dia mau melakukannya karena begitu besar kasihNya pada kita. Itulah yang dinamakan anugerah keselamatan. Luar biasa sekali bukan?

Ada lagi satu hal luar biasa yang merupakan anugerah Tuhan namun sering kali kita abaikan atau menganggapnya sebagai hal yang wajar saja kita dapatkan. Hal itu adalah persahabatan. Ya, sahabat dan persahabatan adalah anugerah Tuhan. Tidak pecaya? Coba pikirkan, kita yang cenderung egois dan hanya mementingkan diri sendiri ini kok bisa-bisanya mempunyai seseorang atau lebih yang memperhatikan dan mengasihi kita sedemikian rupa sehingga hidup kita menjadi penuh warna. Siapa sih yang mau jadi teman dan sahabat orang yang hanya peduli pada keadaan dirinya sendiri? Tapi syukur kepada Tuhan yang telah menempatkan sahabat-sahabat baik di sepanjang jalan kehidupan kita sehingga kita tidak lagi sendirian.

Waktu SMP aku pernah merasa sangat miskin sekali karena aku merasa tidak mempunyai sahabat yang bisa kukasihi dan mengasihiku dangan tulus. Aku begitu merindukan persahabatan sejati seperti yang ada dalam cerita-cerita yang kubaca. Aku mulai berdoa untuk mendapatkan sahabat, seorang saja sudah cukup. Aku menuliskan keinginan dan kerinduan hatiku itu ke dalam buku harianku sampai berlembar-lembar. Namun sepertinya aku tidak mendapatkan jawaban. Setelah lama berselang, dan aku sudah letih berdoa, aku mendapati bahwa Tuhan menjawab doaku dengan caraNya yang ajaib. Aku menyadari bahwa aku telah dikelilingi oleh sahabat-sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Rasanya bukan karena doaku aku memperoleh sahabat-sahabat itu. Semua karena anugerahNya saja. Syukur kepada Tuhan sekali lagi.

Sudahkah kita bersyukur untuk anugerah Tuhan berupa persahabatan yang kita miliki saat ini? Dan bagi yang belum mempunyai atau menyadari kehadiran sahabat, sudahkah kita berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan segala kerendahan hati bahwa kita memerlukan kehadiran sahabat?

Selasa, 08 Desember 2009

Gita


Gita adalah salah satu teman yang pernah mengisi hari-hariku. Mengapa aku katakan "pernah"? Karena sampai saat aku nulis ini, aku sudah seperti kehilangan kontak dengannya. Aku nggak pernah lagi SMSan, telpon, ketemu, atau main ke rumahnya. Padahal dulu aku paling sering nggangguin Gita. Begitu seringnya kami bersama sehingga kami sudah seperti saudara kembar saja. Sayang kebersamaan itu hanya berlangsung beberapa tahun saja. Selebihnya, kami praktis gak pernah ketemu lagi sejak aku mulai sakit jiwa. Hik hik...

Pertama kali ketemu Gita itu di gereja waktu ibadah Sabtu sore. Aku lupa tahunnya, 2001 atau 2002. Yang jelas, waktu itu aku ingetnya lagi ngobrol sama mbak Nina, ngobrol asyik. Tiba2 Gita datang dan memperkenalkan dirinya. Kesan pertamaku sama dia... hmm... gak gitu berkesan... aku masih belum ngeh kalau dia bakalan jadi sahabatku. Kemudian kami jadi sering ketemu dan sering duduk bareng di gereja Sabtu sore. Kami sama2 suka berdoa. Kami sering mendoakan kebaktian Sabtu sore supaya hadirat Tuhan turun dan kebatiannya dapat memberkati orang banyak. Aku pun turut menjadi saksi hubungan antara Ardi dan Gita yang waktu itu juga pertama kali ketemu di gereja Sabtu sore. Sayang, sekarang mereka sudah nggak jadi pasangan lagi. Masing2 sudah pada punya pasangannya sendiri sekarang.

Kalau mau menceritakan tentang Gita bisa panjang lebar nih. Aku cuma bisa bilang bahwa meskipun Gita sudah melupakanku dan nggak menganggap aku sebagai sahabatnya lagi, mungkin menganggap aku sebagai bagian dari masa lalu yang harus dilupakannya, aku tetap menganggapnya sebagai sahabat dan saudaraku yang terkasih. Bagaimanapun juga kami pernah melalui suka dan duka bersama-sama, merasakan pahit manisnya melayani Tuhan. Aku berdoa supaya suatu saat nanti aku bisa ketemu lagi sama Gita dan mulai kembali persahabatan ini dari awal. Yah, gak bisa dipaksakan sih... Cukup percayakan kepada Tuhan Yesus saja, the Master of friendship...

Bagi yang ingin tahu pribadi Gita lebih lanjut, silakan buka weblognya di www.raragita.wordpress.com Di situ Gita banyak bercerita tentang dirinya dan perenungannya yang dalam akan makna hidup yang dihayatinya. Selamat membaca! ^^

Saat Berkendara Bersama Keluarga


Saat berkendara naik mobil sekeluarga adalah saat2 terasyik di mana aku bisa menikmati kebersamaan dengan bapak, ibu, dan Yoyo. Biasanya kami sekeluarga melakukan ritual jalan2 hari Minggu malam setelah pulang dari gereja. Kami makan2 di luar alias jajan kemudian bapak ngajak muter2 ke mana gitu. Yang menarik adalah kebiasaan masing2 kami saat berkendara. Bapak yang menyetir, biasanya senang muter lagu2 nostalgia tempo dulu yang menurutku membosankan. Jadi, sebelum bapak sempat memutar lagu2 jadul itu, biasanya aku lebih dulu request untuk menyalakan radio. Aku suka mendengarkan radio saat berkendara, stay tune di radio Sasando 90,3 fm. Biasanya aku suka mendengarkan siaran kotbah, dialog firman Tuhan, dan lagu2 rohani. Karena bagiku, siaran itu jauh lebih berguna dan membangun daripada mendengarkan lagu2 jadul yang termehek-mehek. Beda lagi dengan ibu. Ibu suka nonton sinetron. Makanya di mobil bapak dipasang juga televisi kecil khusus untuk ibu. Kalau sudah jalan, ibu selalu nyetel TV di stasiun RCTI yang menayangkan sinetron stripping yang nggak mutu dan nggak jelas itu. Maka jadilah kacau balau isi mobil. Ada yang nonton tv, ada yang ndengerin radio. Suara jadi campur aduk. Untung Yoyo nggak ikut2an... Dia lebih menikmati suasana yang ada tanpa perlu menambah jadi kisruh. Hehe...

Itulah keluargaku yang unik dan asyik. Aku sangat bersyukur dengan keluargaku ini. Bersyukur dengan berkat dan anugerah yang Tuhan beri sehingga aku masih punya keluarga yang lengkap. Bersyukur karena aku masih bisa jalan2 dengan santai dan enaknya tiap minggu. Semua karena Tuhan yang membangun keluarga ini sehingga menjadi keluarga kemuliaanNya. Segala puji hormat syukur hanya bagi Tuhan Yesus. Hurrrayyy... hehe... ^^

Memberi, Memberi, dan Memberi


Waktu aku naik mobil bareng Yoyo, sampai di perempatan dekat Syantikara, aku melihat dua orang anak jalanan sedang membagi-bagikan kertas kecil seperti amplop yang ditulisi "untuk anak jalanan". Rupanya makin praktis saja ya cara mengemis sekarang, nggak perlu ngomong panjang lebar, cukup ditulis di kertas dan dibagi-bagikan ke pengendara yang berhenti di lampu merah. Kemudian, beberapa saat setelah membagi-bagikan kertas, mereka kembali mengambil atau mengunduh kertas berikut uang yang dimasukkan ke kertas itu oleh para pengendara yang tergerak oleh belas kasihan. Karena aku dan keluargaku sudah berkomitmen (cieeeh berkomitmen ^^) untuk tidak pernah memberikan uang bagi para pengemis ataupun anak jalanan, maka aku pun tidak tergerak oleh belas kasihan. Namun waktu itu aku tergerak untuk memberi dengan kreatif. Bukannya uang yang aku selipkan melainkan pembatas alkitab/buku bergambar anjing lucu dengan tulisan "Tuhan menyertaimu". Entah apa atau Siapa yang mendorongku untuk berbuat demikian, yang jelas aku merasa sangat puas dan senang dengan apa yang kulakukan. Sangat kreatif, bukan? Aku berdoa dalam hati supaya anak yang menerima pemberianku itu tidak membuang apa yang kuberi dan terlebih lagi, dia mendapat berkat dari Tuhan.

Aku jadi punya ide yang cukup kreatif dan brilian nih. Aku mau beli pembatas alkitab bergambar anjing lucu seharga @Rp2000,00 itu sebanyak-banyaknya untuk kemudian dapat kubagi-bagikan dengan penuh semangat dan kasih kepada para pengemis dan anak-anak jalanan. Ternyata karunia motivasi memberi itu masih ada padaku. Aku mau kembangkan ah supaya aku lebih banyak memberi dengan cara yang kreatif punya. Hehe... Boleh kan? Tuhan aja kreatif gitu lho, anakNya ya kudu kreatif. Betul? ^^

Baca Buku Lagi: When Dreams Come True


Aku lagi baca buku When Dreams Come True tulisannya pasangan suami istri Eric & Leslie Ludy. Nggak nyesel aku beli nih buku. Isinya bener2 mantabz. Menceritakan tentang perjalanan dan pergumulan dua orang muda dalam pencarian akan Tuhan dan akan cinta yang sejati. Menceritakan bagaimana mereka sebelum bertemu, waktu bertemu, bersahabat, dan akhirnya menjalin hubungan percintaan yang murni dan kudus. Waktu aku menulis ini, aku masih belum selesai membaca itu buku. Sekali lagi aku bersyukur karena aku nggak salah pilih buku. Nggak sia2 kubelanjakan uang untuk membelinya.

Buku ini ditulis secara bergantian oleh Eric dan Leslie sehingga menciptakan suasana yang unik karena menampilkan dua sudut pandang yaitu sudut pandang Eric dan sudut pandang Leslie. Lebih indah dan lebih seru daripada novel romantis manapun, bahkan lebih seru daripada Twilight Saga, karena kisah ini merupakan kisah nyata dan di dalamnya nyata betul campur tangan TUHAN di dalam membentuk, mempersiapkan, dan menyatukan Eric dan Leslie. Cara mereka menuturkan kisah mereka pun sangat manis dan menyentuh. Dengan membaca buku ini, aku terdorong untuk lebih sungguh2 lagi mendekat pada Tuhan dalam segala hal termasuk dalam kehidupan cinta. Tuhan ternyata tidak memandang hina setiap aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kehidupan asmara.

Tag line di depan sampul buku ini mengatakan "Kisah nyata yang menginspirasi setiap insan yang merindukan cinta sejati". Dan berikut ini adalah yang tertulis di sampul belajangnya:
Kisah cinta memang selalu menarik. Tetapi tak ada kisah cinta yang lebih menarik selain kisah cinta yang menggambarkan kemurnian cinta. Kisah antara Eric Ludy dan Leslie Runkles adalah kisah cinta yang manis dan tidak dibuat-buat. Buku ini berisi kisah nyata tentang diri mereka sendiri.
Kita dapat menyaksikan pergumulan mereka dalam mencari jati diri, saat mereka jatuh bangun membangun relasi dengan teman-teman sebaya, dan jalinan cinta kasih mereka yang luar biasa. Bagi sebagian orang, kisah mereka mungkin tidak melegenda seperti layaknya kisah Cinderela, tetapi kisah mereka benar-benar menggambarkan impiann yang menjadi nyata!
Buku ini tidak hanya akan membuat Anda terinspirasi dalam mendapatkan pasangan hidup, tetapi juga membuat Anda terinspirasi untuk menjalani kehidupan yang benar.

Ternyata Eric dan Leslie telah menulis buku best seller sebelumnya berjudul When God Writes Your Love Story. Aku jadi pingin nyari dan baca buku itu. Penasaran... hehe... Ok deh, sekian dulu promosi bukunya. Selamat mencari, membeli/meminjam, dan membaca ya... GBU full!!!